Sebuah Mimpi Bangsa Mewujudkan Mahakarya Indonesia

Indonesia, sebuah negara agraris yang yang berdiri dari Sabang sampai Merauke serta memiliki keanekaragaman suku, bahasa, budaya, agama dan berbagai aspek lainnya dalam kehidupan. Wilayah Indonesia dengan populasi yang padat serta tanah air yang luas sungguh membuat masyarakatnya selalu merindukan ‘rumah nyaman’ ini, dimanapun berada. Indonesia yang mengalami modernisasi kini telah sukses memupuk sebuah kekuatan baru untuk melakukan pembangunan di berbagai bidang serta mencapai kualitas kehidupan yang lebih baik dari waktu ke waktu.

Masih ingatkah dengan Semboyan nasional “Bhinneka Tunggal Ika”? Ya, ini merupakan fondasi terkuat bangsa untuk menyatukan perbedaan (pluralisme) sejak Indonesia merdeka. Kalimat yang tercantum pada lambang negara Garuda Pancasila ini berasal dari falsafah Nusantara yang telah digunakan sejak zaman Majapahit sebagai lambang pemersatu bangsa dan negara. Ini adalah bukti bahwa semangat ‘persatuan dan kesatuan’ ternyata telah melekat pada jiwa seluruh anak bangsa pada saat itu untuk tumbuh menjadi sebuah bangsa yang utuh dan merdeka.

Di zaman ini, kita telah merdeka. Kita telah hidup di negara berkembang yang erat dengan berbagai kehidupan yang serba instan, praktis, teknologi canggih serta dimudahkan dalam melakukan segala hal. Bangsa kita pun kini tumbuh menjadi bangsa yang berintelektualitas tinggi, terdidik serta berpikiran maju untuk membangun negara agar lebih berjaya di masa yang akan datang. Melihat anugerah kemerdekaan ini, tentu kita bisa mengambil hikmahnya bahwa kehidupan semakin dipermudah dengan segala fasilitas yang ada.

Bangsaku, Jangan Lupakan Nilai Luhur Indonesia

Melihat perkembangan yang ada di dunia, sebagai masyarakat Indonesia sudah seharusnya dapat menyikapi hal ini dengan bijak dan tetap menjunjung nilai tinggi keluhuran bangsa tanpa melupakan bahwa kita adalah makhluk sosial, makhluk yang dipastikan membutuhkan bantuan orang lain dalam kehidupan. Ya, tentu kita rindu kehidupan di masa lalu, dimana masih terlihat gotong-royong masyarakat pedesaan saat memanen padi di hamparan sawah luas, kuatnya kegigihan para kepala keluarga dalam mengais rezeki walau harus mandi keringat siang malam, adanya kerendahan hati dari setiap wakil rakyat yang ikut memperjuangkan kesejahteraan bangsa ataupun kesabaran masyarakat dalam melakukan antrian loket saat hendak membayar pajak.

Tapi kini, semua nilai luhur bangsa ini seakan pudar tertelan waktu. Dimana bangsaku yang dulu? Dulu Indonesia selalu bergandengan erat dan menebarkan senyuman, tentunya saat belum ada kecanggihan teknologi dan perubahan zaman disana sini. Sekarang? Semua sungguh sangat berbeda :

  • Dulu anak sekolah rajin belajar dan disiplin. Sekarang mereka hobi tawuran.
  • Dulu setiap pagi jalanan ramai karena banyak ibu-ibu memenuhi pasar tradisional. Sekarang mereka lebih nyaman belanja ke Supermarket.
  • Dulu anak-anak mainnya engklek, lompat tali atau dakon. Sekarang mereka lebih hobi main game online.
  • Dulu masih banyak orang yang menjaga kelestarian budaya, seperti mendatangi obyek wisata sejarah atau ikut kursus tari tradisional. Sekarang, mereka lebih pilih ke mall atau nonton film.
  • Dulu saat keluarga kumpul di malam hari, mereka biasa nonton TV bersama dan bersenda gurau. Sekarang setiap sudut terasanya senyap karena tiap anggota keluarga sudah sibuk memegang gadget masing-masing.
  • Dulu para seniman sangat dihargai. Kini zaman menggilasnya dengan berbagai kejahatan, seperti pembajakan lagu atau karya seni lainnya, pelanggaran hak cipta, plagiat dalam berbagai bidang dll.
  • Dulu tak ada masalah dengan perbedaan agama. Sekarang, semakin banyak perdebatan antar dan intern agama yang justru merusak persaudaran sesama umat.

Ya, negara sudah tergilas zaman. Bukankah sejak dulu bangsa kita ingin merdeka? Bukanlah kita merindukan persatuan? Bukanlah kita menghargai pluralisme? Apakah perkembangan teknologi dan berjalannya zaman harus diwarnai dengan pergeseran nilai luhur bangsa yang sudah menjadi ciri khas negara kita? Jangan membiarkan hal ini terjadi terus-menerus. Oleh karena itu, mari bersatu kembali untuk menjadi bangsa yang utuh. Kuncinya hanya satu, yaitu saling menghargai pluralisme dan dapat bertoleransi satu sama lain.

Mahakarya Indonesia Tak Ternilai Harganya

Mulai sekarang, mari mengingat kekayaan negara Indonesia yang berlimpah ruah, hijaunya pegunungan yang menjulang tinggi, birunya air laut yang menyimpan jutaan kekayaan hayati, keanekaragaan budaya bangsa yang bernilai sejarah tinggi, ribuan jenis flora dan fauna yang mengagumkan, ribuan anak bangsa yang makin berprestasi di segala bidang serta nilai luhur bangsa yang mengusung nilai Gotong Royong, Kegigihan, Kerendahan Hati dan Kesabaran untuk mewujudkan tujuan dan cita-cita bersama. Marilah mewujudkan semua itu untuk tetap melestarikan anugerah Tuhan demi mewujudkan sebuah MAHAKARYA INDONESIA.

Mahakarya Indonesia, sebuah perwujudan kesuksesan dan kebanggaan bangsa akan kekayaan alam, pelestarian kekayaan budaya, kreativitas pengelolaan sumber daya alam (SDA) dengan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang berdaya saing tinggi.

Sejak beberapa tahun lalu, Indonesia rupanya melakukan emansipasi di beberapa bidang, dimana kita berusaha berdiri dan mandiri tanpa tergantung oleh negara lain. Ini adalah sebuah langkah kemajuan awal untuk mencapai Mahakarya Indonesia. Disamping hal tersebut, kita pun harus bahu membahu untuk melengkapi segala kekurangan dan melakukan inovasi bangsa dalam berbagai bidang kehidupan. Inovasi bangsa ditekankan kepada akhlak bangsa dan pemahaman visi misi bangsa yang terus dibenahi hingga tercapai sebuah kondisi yang aman, tenteram, nyaman, damai dan sejahtera untuk seluruh masyarakat.

Untuk mewujudkan Mahakarya Indonesia yang megah, kita harus mengetahui dengan pasti apa saja kekayaan yang tersimpan di tanah air tercinta ini. Ibarat akan membangun sebuah rumah, kita harus tahu bahan apa saja yang diperlukan, bagaimana cara mengelola bahan tersebut agar menghasillkan bangunan kuat, bagaimana alur pembuatan rumahnya agar hasilnya bagus sesuai harapan. Bahkan setelah rumah jadi, harus tahu bagaimana cara menata perlengkapan rumah dan merawatnya agar selalu terlihat indah, bersih dan nyaman dihuni. Rumah ini ibarat Indonesia. Rumah Megah ibarat Mahakarya Indonesia. Oleh karenanya, prioritas kita saat ini adalah bagaimana cara membangun Indonesia, mengelola kekayaan Indonesia atau merawat aset bangsa untuk mewujudkan sebuah Mahakarya Indonesia yang pantas untuk dibanggakan.

Bukti Bahwa Indonesia adalah Surga

Berbicara tentang aset bangsa, kita takkan kehabisan topik. Indonesia itu sangat kaya dan memiliki banyak ‘harta karun’ yang selama ini hanya terpendam. Bagaimana cara memunculkannya? Kita harus mengetahui kekayaan apa saja yang kita miliki. Di bidang budaya, kita kaya dengan adat dan budaya Indonesia. Di bidang kelautan, laut kita sangat indah dan memiliki jutaan jenis ikan yang cantik. Di bidang pertanian, tanah kita subur dan tanaman apapun bisa hidup. Ingatlah lirik lagu Koes Plus yang berjudul ‘Kolam Susu’ berikut ini : “Bukan lautan hanya kolam susu…..Kail dan jala cukup menghidupmu……..Tiada badai tiada topan kau temui……….Ikan dan udang menghampiri dirimu…….Orang bilang tanah kita tanah surga………Tongkat kayu dan batu jadi tanaman……”

Lirik ini memang mengandung makna yang sangat dalam, yaitu bahwa kita pantas berbangga dan bersyukur karena kita hidup di tanah air yang subur dan merdeka. Apapun yang kita lakukan disini dapat dijadikan alat untuk mengais rezeki. Lalu, apa saja kekayaan negara yang harus kita jaga untuk mewujudkan sebuah Mahakarya Indonesia?

KEKAYAAN ALAM

  • Indonesia memiliki lautan terluas di dunia dengan perairan seluas 93 ribu km2 dan panjang pantai sekitar 81 ribu km2 serta dikelilingi oleh samudera Pasifik dan Hindia.
  • Indonesia memiliki 3 dari 6 pulau terbesar didunia, yaitu : Kalimantan (pulau terbesar ketiga di dunia dengan luas 539.460 km2), Sumatera (473.606 km2) dan Papua ( 421.981 km2).
  • Indonesia memiliki tanah yang sangat subur karena memiliki banyak gunung berapi yang aktif dan dilintasi garis khatulistiwa yang banyak mendapat sinar matahari dan hujan.
  • Indonesia memiliki hutan tropis terbesar di dunia dengan luas 39.549.447 Hektar yang ada di pulau Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi
  • Indonesia adalah penghasil gas alam cair (LNG) terbesar di dunia (20% dari suplai seluruh dunia).
  • Indonesia menjadi rumah binatang purba yang masih hidup hingga saat ini, yaitu Komodo.
  • Indonesia memiliki hutan bakau terbesar di dunia yang bermanfaat untuk mencegah pengikisan air laut (abrasi).
  • Indonesia memiliki bunga terbesar di dunia, yaitu Rafflesia Arnoldi yang tumbuh di Sumatera (diameternya mencapai 1 meter saat mekar).
  • Indonesia memiliki berbagai jenis anggrek terlengkap di dunia, mulai dari terbesar hingga terkecil.
  • Indonesia adalah pengekspor terbesar kayu lapis (plywood), yaitu sekitar 80% di pasar dunia.
  • Lautan Indonesia memiliki spesies ikan hiu terbanyak di dunia, yaitu lebih dari 150 spesies.
  • Indonesia memiliki kekayaan terumbu karang (Coral Reef) terbesar di dunia (18% dari total dunia).
  • Indonesia memiliki pertambangan emas terbesar, yaitu PT Freeport yang menghasilkan kualitas emas terbaik di dunia.
  • Indonesia menempati peringkat 1 dalam produk pertanian, yaitu : cengkeh (cloves) & pala (nutmeg), serta no.2 dalam karet alam (Natural Rubber) dan minyak sawit mentah (Crude Palm Oil).

ADAT, SENI & BUDAYA

  • Indonesia memiliki suku bangsa yang terbanyak di dunia, yaitu lebih dari 750 suku bangsa/etnis.
  • Indonesia memiliki bahasa daerah yang terbanyak, yaitu 583 bahasa dan dialek dari 67 bahasa induk yang digunakan berbagai suku bangsa di Indonesia.
  • Indonesia memiliki batik sebagai warisan budaya asli dan telah diresmikan oleh UNESCO pada 9 Januari 2009.
  • Indonesia memiliki gamelan Jawa sebagai alat musik khas Jawa yang terdiri dari bonang, gong, rebab dan alat musik lainnya.
  • Indonesia memiliki keris yang dulu dipakai para raja Majapahit. Kini keris tersebar di Jawa, Madura, Nusa Tenggara, Sumatera, Pesisir Kalimantan dan Sulawesi.
  • Indonesia memiliki Pulau Jawa yang menjadi pulau terpadat di dunia.

SEJARAH & WISATA

  • Indonesia memiliki Candi Borobudur yang menjadi salah satu dari 7 keajaiban dunia.
  • Indonesia menjadi tempat ditemukannya manusia purba tertua di dunia, yakni Pithecanthropus Erectus.
  • Indonesia memiliki Sumber Daya Manusia yang produktif dan menghasilkan beraneka karya kreatif, bahkan telah diakui UNESCO, seperti : batik, keris, wayang kulit, angklung, tari saman, dst.

PRESTASI SDM

  • Indonesia pernah memiliki tim bulutangkis yang terbanyak merebut lambang supremasi bulutangkis pria, Thomas Cup, yaitu sebanyak 13 x (pertama kali th 1958 & terakhir 2002) dan juara all England terbanyak.
  • Indonesia memiliki siswa-siswa SMK berbakat yang berhasil membuat Mobil ESEMKA dengan teknologi tinggi.
  • Indonesia memiliki banyak generasi muda berbakat yang sering memenangkan berbagai lomba Olimpiade Sains di dunia.
  • Dan masih banyak lagi keunggulan bangsa yang lainnya.

Nilai Yang Harus Dilestarikan Dalam Masyarakat

Mahakarya Indonesia menyuguhkan berbagai aset bangsa yang tak ternilai harganya. Mahakarya Indonesia telah menjadi bukti perkembangan bangsa dari masa ke masa. Tentu saja, perkembangan ini takkan terlaksana tanpa ditopang kekayaan alam yang melimpah, sumber daya manusia yang berkualitas, mutu pendidikan yang tinggi serta olahan hasil produk terbaik.

Mahakarya Indonesia sudah sepantasnya kita sikapi dengan arif guna untuk menciptakan siklus sosial yang baik serta mencapai kemajuan teknologi yang sehat. Jangan lupa juga, jagalah nilai luhur bangsa agar tak terlindas oleh perkembangan zaman. Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika adalah nilai yang harus selalu menjadi landasan kehidupan bangsa kita dalam mewujudkan sebuah bangsa yang besar. Pedoman inilah yang mengatarkan kita menjadi bangsa yang makin beradab dan sejahtera bahkan mampu bersaing dalam jajaran bangsa internasional. Lestarikan ciri khas bangsa Indonesia yang menjunjung tinggi persatuan bangsa serta memiliki sifat keramahan yang membuat para wisatawan betah berada di negara kita. Jangan lupakan juga berbagai nilai masyarakat yang mengantarkan kita menjadi bangsa yang mampu mewujudkan Mahakarya Indonesia, yaitu :

1. GOTONG ROYONG

“Lihat kawan, desa ini sungguh mengagumkan. Saat membangun sebuah masjid perdana yang telah dinantikan oleh seluruh masyarakat, para pria terlihat bersiap dengan celana pendek dan kaos lusuhnya untuk mulai berjuang membangun sebuah rumah ibadah tersebut. Paparan sinar matahari tak menghentikan langkah mereka untuk menyiapkan semen, batu bata, memotong kayu, mengukur tanah dengan penuh semangat. Tak ketinggalan para istri yang ikut bergotong royong memasak besar untuk makan bersama saat istirahat nanti. Beragam jajanan pasar juga tersedia di beberapa piring serta teh panas yang melegakan dahaga mereka. Terdengar berisik karena bauran dan celoteh mereka tentang keluarga masing-masing menyemarakkan pagi itu. Sungguh indah dipandang….. ”

Masih seringkah kita melihat kondisi seperti diatas? Masih lekatkah kehidupan kita di zaman ini dengan budaya gotong-royong di masyarakat? Di pedesaan, fenomena ini mungkin masih banyak kita lihat di setiap sudutnya. Tapi di perkotaan? Budaya ini dikalahkan dengan kesibukan masyarakat serta sikap individualisme yang menjamur sebagai gaya hidup mereka. Padahal jika kita mampu memahami dengan baik, budaya gotong royong ini merupakan warisan Indonesia yang telah menjadi pandangan hidup yang seharusnya jangan sampai terpisah dari kehidupan kita sehari-hari.

Budaya gotong royong pada dasarnya adalah saling membantu atau menolong dalam menyelesaikan sebuah pekerjaan. Tentu ini menjadikan kita lebih nyaman dan lebih cepat mendapatkan berbagai solusi hidup karena semua masalah akan terpecahkan dengan mudah. Jadikan gotong royong sebagai identitas bangsa yang harus dijaga untuk membangun kehidupan masa depan. Contoh gotong royong yang dapat dilakukan adalah membersihkan kampung saat akan menyongsong hari merdeka, membangun masjid atau pos kamling, membersihkan lingkungan sekolah dan perkantoran, mengecat tembok kampung, menanam sejuta pohon di beberapa daerah dsb.

Gotong royong yang telah menjadi kepribadian bangsa merupakan fondasi untuk membentuk sebuah Mahakarya Indonesia, yaitu bermanfaat untuk meningkatkan kebersamaan atau rasa solidaritas, pekerjaan berat akan terasa lebih ringan, pekerjaan cepat selesai, hemat biaya jika dikerjakan bersama, menumbuhkan rasa percaya diri, memiliki semangat tinggi dan menjauhkan kita dari sikap individualisme.

2. KEGIGIHAN

Ingatlah kegigihan mereka. Para pahlawan berani bertaruh nyawa demi negara. Tak pernah berpikir bagaimana kalau aku mati, bagaimana nasibku di medan perang nanti. Sifat gigih dan pantang menyerah itulah yang membuat mereka menjadi manusia yang besar dan dikagumi oleh generasi muda sekarang. Bagaimana perasaan keluarga jika mereka wafat di medan perang? Tentu sedih namun bangga. Di masa lalu, fokus mereka hanyalah dua, yaitu mengusir penjajah dan mewujudkan kemerdekaan Indonesia. Mereka tak kecewa jika hidup mereka sendiri tak merdeka namun mereka akan bahagia ketika melihat kita sekarang sudah merdeka dan tersenyum bangga dengan perjuangan masa lalu….”

Indonesia, memiliki pahlawan yang memiliki kegigihan untuk mewujudkan Indonesia merdeka di masa lalu. Tak perlu lagi mempertanyakan seberapa besar pengorbanan mereka untuk kita sekarang. Semua sangatlah besar hingga tak ternilai harganya, takkan terbalas oleh apapun. Ini adalah bukti sejarah bahwa bangsa kita sesungguhnya sangat memiliki kegigihan tinggi dalam menjalani hidup bermasyarakat sejak zaman dulu.

Kegigihan merupakan semangat pantang menyerah yang harus kita miliki untuk mencapai sebuah harapan atau kesuksesan. Orang yang gigih tak pernah sekalipun menyerah atau mengeluh saat masalah datang. Ia menerima masalah dengan dingin hati, menghadapinya dengan berani dan memiliki tujuan yang pasti dalam menyelesaikan masalah tersebut.

Kegigihan dapat membentuk kematangan mental masyarakat dalam membangun bangsa. Jadi tak heran jika banyak negara yang sukses karena kegigihan bangsanya dalam memperjuangkan berbagai aspek kehidupan yang menjadikan negaranya maju dan dikagumi oleh negara lainnya. Berbagai rintangan dan hambatan takkan menjadi alasan mereka dalam mewujudkan cita-cita. Contoh perwujudan kegigihan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari adalah kerja keras orang tua untuk membiayai pendidikan anaknya, kegigihan anak sekolah untuk mencaai nilai terbaik di kelas, kerja keras seorang ibu dalam merawat anaknya sejak bayi, perjuangan kepala negara dalam meningkatkan kesejahteraan rakyatnya, kegigihan pahlawan melawan penjajah dsb.

Kegigihan menjadi kekuatan bangsa untuk mewujudkan sebuah Mahakarya Indonesiayang pantas dibanggakan. Kegigihan ini memiliki banyak manfaat bagi kehidupan setiap orang, diantaranya membentuk diri untuk mengeluarkan kemampuan terbaik, mampu mengalah hambatan dan keputusasaan, meningkatkan keinginan harus menang, alat untuk meraih sukses serta membangun  karakter kuat dalam menjalani kehidupan.

3. KERENDAHAN HATI

“Keluarga Pak Lurah membuatku rindu. Dulu saat aku masih berumur 10 tahun, suka sekali dikasih makanan dan permen oleh bu lurah. Sekalipun mereka beda agama dengan aku, tapi saat hari raya Idul Fitri, mereka selalu open house untuk menyediakan berbagai camilan dan kue enak untuk kami. Tak pernah mengeluh sekalipun saat ada masyarakat yang datang tengah malam untuk minta bantuan. Mereka tak pernah merasa tinggi, mereka sangat berbaur dengan masyarakat. Ada acara apapun di kampung, mereka tak pernah absen kecuali ada acara lain di waktu bersamaan. Tak pernah mengucilkan yang miskin atau tersingkir. Hebatnya, keluarga pak lurah justru selalu membantu kaum miskin di desa kami agar kehidupan mereka lebih layak dan terangkat.”

Sosok yang rendah hati ternyata selalu dirindukan oleh banyak orang. Inilah salah satu kepribadian bangsa kita yang dikagumi oleh negara lain, yaitu sifat rendah hati. Rendah hati sering diartikan sebagai sifat bijak yang melekat pada seseorang, memposisikan dirinya dengan orang lain sama, merasa tidak lebih tinggi, merasa tidak lebih baik, tidak lebih kaya, tidak lebih pintar atau tidak juga lebih mulia. Sifat ini pun selalu identik dengan keikhlasan, ramah, suka tersenyum dan berbagai sifat positif lainnya.

Di tengah kehidupan bangsa yang telah tinggi peradabannya, mungkin kita akan sulit untuk menemukan orang yang rendah hati di zaman ini. Nilai rendah hati yang telah terpupuk sejak lama di masyarakat Indonesia kian memudar seiring dengan pergeseran nilai adat dan budaya yang berkembang di masyarakat. Dulu banyak orang rendah hati (yang sesungguhnya tinggi derajatnya dalam masyarakat) mengatakan, “siapa sih aku. Aku sama dengan mereka, tak ada bedanya.” Tapi, kini zaman telah berubah, mereka yang merasa tinggi selalu menonjolkan diri sebagai seseorang yang harus diperhatikan dengan mengucapkan “Inilah aku. Ini lho prestasiku. Segini kekayaanku.”

Dalam kehidupan masyarakat, semua orang ingin menjadi nomor 1. Padahal dihadapan Tuhan, kita bukanlah siapa-siapa, kita semua sama. Oleh karenanya, sebagai bangsa yang berintelektual tinggi, bangsa yang berpendidikan, mari rendahkan hati karena ini merupakan proses pembelajaran yang sangat penting dalam kehidupan spiritual masyarakat. Berbagai contoh kerendahan hati yang dapat kita lakukan adalah tidak merendahkan orang lain yang lebih miskin, tidak membicarakan orang lain yang tidak kita sukai, tidak mengunggulkan prestasi yang dimiliki, tidak pamer harta kekayaan dsb.

Mari berintrospeksi diri menjadi bangsa yang mengutamakan kerendahan hati dalam membangun Mahakarya Indonesia.Ada banyak hal yang akan kita raih jika dapat mewujudkannya, diantaranya lebih mudah mengasihi orang lain, lebih mudah melupakan dendam dan kebencian, jauh dari sikap menghakimi orang lain, menerima kekurangan orang lain, lebih mudah menyelesaikan masalah serta lebih dekat dengan Tuhan.

4. KESABARAN

“Indahnya Indonesia jika memiliki masyarakat yang memiliki kesabaran tinggi. Saat kemarin antri menabung di bank, aku melihat para nasabah rela antri berjam-jam untuk melakukan transaksi sesuai dengan kebutuhan mereka. Saat berhenti di traffic Light, para pengguna jalan terlihat bersabar menunggu lampu berwarna hijau. Saat belum gajian, masyarakatpun rela menunda untuk belanja baju kesukaannya di mall. Kesabaran pasti berbuah manis karena membentuk budaya kehidupan masyarakat yang lebih baik dan terarah.”

Kesabaran merupakan mitra kebijakan. Istilah ini memang benar karena kesabaran selalu berkaitan dengan kebijakan hati kita dalam melakukan sesuatu. Kesabaran pun akan membantu kita dalam menjalani segala rintangan hidup yang menghadang. Coba bayangkan, bagaimana jadinya kalau kita tak sabar minum obat saat masa penyembuhan? Tentu, kita takkan pernah sembuh dari penyakit.

Pola hidup masyarakat yang serba instan di zaman modern ini tentunya semakin mengurangi rasa sabar masyarakat dalam beraktivitas. Semua orang ingin bergerak cepat, instan, praktis dan tanpa pengorbanan yang besar. Padahal jika kita bisa memahami, segala yang instan juga akan memberikan manfaat yang instan pula bagi kita. Sebaliknya, segala hal yang dapat kita lalui dengan kesabaran akan menghasilkan buah yang bermanfaat lama dan memuaskan bagi kita. Kesabaran tak hanya terpupuk dalam satu malam. Kesabaran tentu harus dilatih setiap hari yang menghasilkan berbagai pengalaman hidup.

Kesabaran dalam membangun Indonesia tentu akan mewujudkan sebuah Mahakarya Indonesiayang sangat indah dan tak ternilai harganya. Tentu saja, ada banyak manfaat dari sikap sabar yang selalu kita utamakan ini, yaitu meningkatkan semangat hidup, pantang menyerah dalam menjalani apapun, membentuk proteksi diri yang lebih baik, lebih mudah menjalani ujian hidup, membuat kita lebih tenang dan damai serta lebih menghargai waktu dalam hal apapun.

Itulah mimpi bangsa untuk membentuk Mahakarya Indonesiayang megah dan membanggakan. Segala keunggulan bangsa serta segala aset dan kekayaan negara tentu harus kita olah sebijak mungkin agar bermanfaat bagi hajat hidup orang banyak. Jaga kekayaan negara, jangan sampai budaya dan ‘harta karun’ kita diklaim lagi oleh negara lain. Jangan lengah dalam memperjuangkan hak bangsa serta meningkatkan nasib bangsa di berbagai bidang kehidupan. Bangsa yang merdeka memiliki jiwa Indonesia yang harus terus dipupuk dengan semangat gotong royong, kegigihan, kerendahan hati dan kesabaran untuk mecapai kehidupan yang adil dan makmur.

Nusantara kaya akan seni dan kebudayaan yang memikat, pola hidup yang kental dengan tradisi, serta beragamnya bahasa dan suku bangsa sebagai kekayaan yang tak ternilai harganya. Hargai pluralisme, manfaatkan teknologi dengan bijak dan cerdas serta serta tetap menjaga jiwa Indonesia yang tetap kukuh walau terjadi perubahan zaman. Mari jaga laut, jaga tanah, jaga flora dan fauna, jaga tradisi dan budaya yang telah mengangkat kita sebagai bangsa yang besar. Teriakkan “Aku Bangga jadi Bangsa Indonesia” dan jadikan Anda sebagai salah satu perwujudan Mahakarya Indonesia,mulai dari detik ini.

Riana Dewie

Tulisan ini sebelumnya telah diposting DISINI.

Sumber Referensi :

http://sirihmerah-nur.blogspot.com/2009/03/bhinneka-tunggal-ika-nilai-luhur-budaya_05.html

http://jagaindonesia.blogspot.com/2010/03/kegigihan-adalah-semangat-pantang.html

http://www.cosmopolitan.co.id/article/read/12/2014/5307/5-manfaat-sabar

 

 

Waspada, Makin Banyak ‘Generasi Menunduk’ Akibat Internet

Sebenarnya saya kebingungan harus menulis dari mana untuk mengungkapkan beberapa hal yang menurut saya semakin darurat terjadi di zaman modern ini. Saya bingung, bukan karena saya sulit mencari kata-kata yang layak dibaca, namun sulit karena saya sendiri telah menjadi korban akan adanya hal ini. Bahkan, banyak orang di dunia ini telah ‘ketagihan’ dengan ini dan rasanya sangat sulit untuk lepas karena perkembangannya takkan bisa dikendalikan oleh apapun, kecuali kontrol diri sendiri.

Ya, yang saya bicarakan adalah duet perkembangan teknologi yang telah mengubah dunia makin modern hingga detik ini, yaitu internet dan gadget. Inilah yang menimbulkan sebuah fenomena tragis dimana seluruh manusia di bumi ini mengubah kesehariannya menjadi ‘menunduk’. Saat berjalan mencari makan, banyak orang menunduk sambil buka-buka ponselnya. Saat sampai di kantor, bukan langsung bekerja tapi malah menunduk membuka gadgetnya. Saat sampai di rumah, bukannya langsung prepare bersih-bersih diri namun malah menghabiskan waktu untuk ngegame dari tabnya. Saat masuk antrian bayar pajak, bukan melihat berapa sisa antrian yang harus kita sabari, namun justru asyik menunduk karena chat dengan temannya. Dan lagi-lagi, mereka menunduk dengan bumbu cekikikan dan senyum-senyum sendiri tanpa menghiraukan keberadaan orang lain disekitarnya. Hal ini ternyata membuat kita merasa bahagia, punya teman banyak dan merdeka. Tapi tahukah Anda, bahwa semua ini adalah semu?

Makin banyaknya manusia yang masuk dunia ‘maya’ ternyata justru membuat hidup mereka makin ‘nyata’ dan berwarna. Ini sungguh membuat miris karena perkembangan teknologi yang meledak dalam kehidupan manusia ternyata menarik mereka dalam kehidupan yang anti-sosial. Sekalipun kita aktif dalam sosial media, namun belum tentu kita aktif dalam kehidupan sosial di dunia nyata. Pernah berpikirkah kita bahwa banyak hal yang sesungguhnya harus kita pahami bahwa ketagihan online ternyata semakin menjauhkan kita dari kehidupan positif bersama orang lain di sekitar kita. Dan ini harus segera dihentikan karena jika tidak, para penerus bangsa akan terlahir menjadi ‘generasi menunduk’ yang kesehariannya hanya dihiasi dengan aktivitas online yang tak selalu berdampak positif.

Di bawah ini adalah beberapa alasan mengapa kita harus mengontrol diri dalam bersosial media dan lebih memprioritaskan kehidupan sosial secara nyata. Ternyata ada banyak hal negatif dari perkembangan gadget dan internet yang harus kita sadari, seperti berikut ini :

1. Mengumbar KETIDAKJUJURAN

Ya, saya mengatakan ketidakjujuran karena inilah yang memang sering dilakukan oleh para aktivis sosial media dimanapun berada, baik di FB, Twitter, Instagram, Path dsb. Mungkin masing-masing diantara kita harus berani jujur dari hati, apakah semua yang kita tulis di sosial media selalu benar? Apakah status-status kita selalu jujur dan sesuai dengan kenyataan yang kita alami? Apakah kita selalu menulis status polos tanpa ada bumbu-bumbu yang mengindahkan?

Anda pasti bisa menjawabnya. Kebanyakan nitizen akhir-akhir ini menjadi puitis ketika suasana hatinya tak menentu. Banyak juga yang menjadi pujangga dadakan dengan gaya bahasa yang menyilaukan hati sehingga menarik perhatian banyak orang untuk ikut andil berkomentar didalamnya. No problem, karena sosial media pastinya ada pemiliknya yang mencantumkan nama (walaupun samaran) sehingga apapun yang dikicaukan pastinya menjadi tanggung jawab pribadi. Namun hal yang sangat disesalkan adalah mengapa harus mengumbar hal yang tak jujur, yang tak sesuai dengan keadaan sebenarnya. Mungkin suatu hari Anda membuat status : “Asyik… Lebaran dibeliin banyak baju baru oleh pacar. Makasih mas sayang…“ (padahal Anda tak punya pacar dan tak dibelikan baju oleh siapapun. Ini hanyalah ego pribadi agar terlihat eksis dan dikagumi teman-teman di sosial media). Atau ada juga yang membuat status seperti ini : “Bahagianya memiliki banyak orang yang perhatian ma aku. Thank untuk care-nya selama ini….” (dalam beberapa kasus, status seperti ini ternyata hanya untuk menutupi kesepiannya di dunia nyata. Sebenarnya hidupnya terpuruk dan jauh dari perhatian orang).

Inilah yang saya katakan bahwa ‘generasi menunduk’ makin mengkhawatirkan karena mereka telah belajar bahkan sangat cerdas untuk menampilkan kebohongan, terutama dari kelompok ababil. Jangan sampai ini terjadi berlarut-larut karena dapat merusakan akhlak generasi muda karena tak memiliki kejujuran.

2. PENDIDIKAN INSTAN bagi Anak yang Meresahkan

Internet dan perkembangan gadget ternyata menjadi alternatif bagi para orang tua di zaman ini untuk memberikan pendidikan bagi anak mereka. Jadi jangan heran jika di usia balita, para anak sudah pandai memainkan gadget, bahkan lebih pandai dari para orang tua yang melahirkannya. Menurut saya, ini sungguh sangat meresahkan karena sekalipun ini adalah cara mendidik yang praktis dan instan, tapi ini akan menjadikan mereka menjadi generasi yang hanya terkungkung di dalam rumah tanpa belajar ilmu kehidupan di luar rumah.

Bisa Anda lihat sendiri, anak jaman sekarang setelah pulang sekolah, langsung main game atau browsing-browsing tentang segala hal yang menjadi hobi mereka. Seakan-akan anak masa kini tak bisa hidup dan terhibur tanpa pegang Ipad atau tab. Ini sah-sah saja jika tujuan utamanya untuk mengenalkan anak pada teknologi. Tapi ini bisa menjadi masalah baru ketika anak membuka hal-hal yang ‘tak pantas’ atau terlalu vulgar untuk anak seusia mereka, misalnya gambar atau bacaan beraroma ‘seks’ yang membuat psikologi mereka berkembang lebih dewasa dari yang seharusnya. Bukankah orang tua tak ingin merasakan dampak negatif ini bukan?

Oleh karenanya, batasi penggunaan gadget untuk Anak Anda. Dan yang terpenting, perkembangan anak semakin baik jika dia bisa bermain bebas di luar rumah, main becek-becekan, jatuh dari sepeda, dan bisa tertawa hahahihi dengan teman-teman sepantarannya karena berpetualang. Selain mengenalkan mereka dengan kehidupan sosial yang nyata, ini akan mengajarkan mereka lebih mudah berbagi kepada orang lain saat dewasa kelak.

3. Melahirkan Generasi ANTI SOSIAL

Belum banyak yang menyadari bahwa internet secara perlahan akan menarik kita dari kehidupan sosial. Coba bayangkan kondisi kehidupan di bawah ini :

Suatu ketika Anda (wanita) berjalan di sebuah taman dengan membawa smartphone dan asyik cekikian melihat balasan chat Anda bersama teman sosmed Anda. Disana Anda duduk di kursi taman dan tak lama kemudian datanglah seorang pria yang duduk di sebelah Anda sambil membaca komik favorit. Pria itu ingin menyapa Anda dan berkenalan lebih jauh saat menoleh ke arah Anda. Tapi karena melihat Anda terlalu asyik dengan gadget, si pria ini mengurungkan niatnya dan beranjak pergi.

Sekarang bayangkan bagaimana jika Anda tak terlalu sibuk dengan smartphone di tangan Anda dan bisa menanggapi kenalan si pria ini? Bisa jadi, Anda bisa berkenalan dengan si pria bahkan bisa menjalin hubungan cinta yang lebih membahagiakan. Hari-hari Anda makin berwara dengan kasih sayang dan cinta darinya. Anda menikah dan memiliki anak darinya. Anda bahagia bersamanya hingga di masa tua. Dan suatu hari, di usia senja dengan banyak cucu, Anda menyadari bahwa apa yang Anda lakukan ini adalah kompensasi Tuhan atas keputusan tepat Anda di dalam hidup. Untungnya Anda dulu tidak meninggikan ego saat berada di taman. Untung Anda tidak ‘menunduk’ keasyikan mainan internet. Dan untungnya, Anda sangat bijak dalam memanfaatkan internet dan gadget untuk mempersiapkan masa depan Anda.

Itulah contoh kecil dalam kehidupan betapa kita sering menarik diri dari kehidupan sosial hanya karena tak bijak dalam memanfaatkan internet. Masih banyak hal lain yang harus kita sadari bersama agar kita memiliki banyak teman dan saudara yang benar-benar perhatian dan sayang kepada kita di kehidupan yang nyata. Jangan pernah abaikan orang yang berdiri di sebelah Anda saat di halte bus, bisa jadi dia adalah orang yang akan memberikan informasi lowonga kerja sehingga Anda bisa mendapatkan pekerjaan yang layak dan mengubah hidup lebih baik.

Apakah Sosial Media Selalu Menguntungkan?

Dulu saat kampung ingin mengadakan kegiatan, warga pasti diminta berkumpul bersama untuk melakukan rapat terkait dengan kegiatan tersebut. Tentu ini menambah kebersamaan dan keeratan antar anggota masyarakat karena sering bertemu sapa. Sekarang, hanya dari SMS atau chat sosmed, keputusan tiba-tiba sudah diberitahukan dan kita tinggal eksekusi.

Dulu setiap ingin belanja, kita harus keluar rumah dimana selama perjalanan ke supermarket, kita akan saling bertegur sapa dengan tetangga dan kenalan sehingga hidup kian berwarna dan mempererat hubungan dengan sesama. Sekarang, solusi praktis sudah menghinggapi masyarakat dengan belanja praktis hanya dari onlineshop. Tinggal pesan, transfer uang dan barang dikirim ke rumah.

***

Kini kita yang dapat menyimpulkan sendiri bahwa intenet dan gadget memang membawa manfaat bagi masyarakat karena dipastikan seluruh aktivitas akan lebih mudah, praktis, cepat dan efektif. Namun, di sisi lain, kita pun harus dapat memanfaatkan internet secara bijak agar tak menimbulkan permasalahan dan penyesalan di masa depan. Kenyataannya, saat ini para ‘generasi menunduk’ semakin banyak kita lihat di pusat keramaian, jalanan, tempat wisata, mall dll. Sudah tulikah kita dengan suara berisik orang-orang sekitar yang asyik bercengkrama? Sudah butakah kita dengan mereka yang berjalan beriringan bersama kita di keramaian? Sudah bisukah kita untuk menyapa mereka yang kita kenal hanya karena keasyikan mainan internet di tempat umum?

Di masa ini, kita telah menjadi korban dari perkembangan teknologi. Jadi, jangan biarkan anak-anak kita merasakan hal yang makin parah di masa depan. Jadikan mereka tetap memprioritaskan kehidupan sosial dan lebih bahagia saat bertemu dengan banyak orang. Jangan biarkan ruang keluarga sepi hanya karena setiap anggota keluarga asyik dengan gadget masing-masing. Kekonyolan karena internet takkan terjadi jika kita sama-sama dewasa dalam menanggapi perkembangan teknologi yang luar biasa di masa ini. Oleh karena itu, jangan bodohi diri sendiri karena dikuasi teknologi. Kita adalah manusia cerdas yang harus lebih pandai menguasai teknologi sehingga dapat memperlakukan teknologi ini dengan lebih bijak, terutama internet.

Riana Dewie

Tulisan ini sebelumnya telah diposting DISINI.